JAM
Twitter Updates
Senin, 29 Maret 2010
Minggu, 07 Maret 2010
Sosiologi
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia semakin terpuruk dengan perilaku warga negaranya yang sudah tidak lagi mencerminkan sebagai seorang warga negara yang baik. Perilaku tersebut adalah perilaku yang menyimpang dari norma dan aturan yang ada di Indonesia. Kurangnya kesadaran akan cinta pada bangsanya tidak sedikit dilakukan oleh kebanyakan orang terutama para remaja, lebih-lebih remaja yang ada di perkotaan. Padahal para remaja adalah generasi penerus bangsa yang seharusnya bisa menumbuhkan semangat untuk menjunjung nilai-nilai dari norma dan aturan yang ada. Susahnya para pejuang bangsa untuk merebut kembali kemerdekaan Indonesia tidak lagi dihiraukan oleh para remaja di perkotaan karena yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bersenang-senang dan berfoya-foya. Padahal remaja saat ini tinggal meneruskan perjuangan para pejuang terdahulu bukan malah merusaknya dengan tidak memikirkan masa depan dirinya sendiri dan masa depan bangsanya.
Masa remaja yang merupakan peralihan dari masa anak menuju ke masa dewasa ini akan mudah terpengaruh dengan hal-hal negatif yang ada di lingkungan sekitar mereka. Hal-hal negatif tersebut merupakan penyimpangan sosial yang dilakukan para remaja dan biasanya mereka dicap sebagai remaja yang nakal (kenakalan remaja). Mudahnya mempengaruhi para remaja ini menjadikan remaja sebagai sasaran atau korban dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Apalagi kehidupan remaja sekarang telah dimasuki oleh dunia gelap yang akan mempengaruhi perilaku dan perkembangan mental para remaja. Dunia gelap itu sangat menjerumuskan para remaja seperti narkoba atau saat ini dikenal sebagai napza. Kata narkoba pun sudah tidak asing di telinga setiap remaja, terutama para remaja di daerah perkotaan. Remaja sesungguhnya tahu akan keberadaan narkoba yang dilarang karena sangat berbahaya, tetapi tidak sedikit para remaja yang mengkonsumsi atau bahkan mengedarkannya. Penyalahgunaan narkoba oleh para remaja di perkotaan ini pasti akan mempengaruhi perilaku dan mental mereka, sedangkan perilaku remaja merupakan cermin dari perilaku suatu bangsa terhadap pandangan dunia. Jika perilaku para remaja buruk maka pandangan terhadap suatu bangsa di mata bangsa lain akan dicap sebagai negara yang buruk pula.
Rumusan Masalah
1.2.1 Faktor apa saja yang mendorong para remaja di perkotaan untuk menyalahgunakan narkoba?
1.2.2 Apa saja dampak yang terjadi akibat penyalahgunaan narkoba?
1.2.3 Bagaimana cara menanggulangi penyalahgunaan narkoba oleh remaja?
1.2.4 Bagaimana pengaruh sosial terhadap keberadaan penyalahgunaan narkoba oleh remaja di perkotaan?
Tujuan Penelitian
1.3.1 Untuk mengetahui faktor yang mendorong para remaja di perkotaan terhadap penyalahgunaan narkoba
1.3.2 Untuk mengetahui dampak apa saja yang terjadi akibat penyalahgunaan narkoba
1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana cara menanggulangi penyalahgunaan narkoba oleh remaja
1.3.4 Untuk mengetahui bagaimana pengaruh sosial terhadap keberadaan penyalahgunaan narkoba oleh remaja di perkotaan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Mengenal Remaja
Remaja menurut Rahmadona Fitri adalah periode transisi antara masa anak-anak dan masa remaja. Masa remaja adalah masa-masa timbulnya kesulitan dan perselisihan antara anak dengan orang tua atau siapa pun yang mencerminkan kakuasaan. Hal tersebut karena secara fisiologis si anak sedang mengalami sesuatu yang baru dan merasakannya, hal itu akibat dimulainya aktifitas hormonal di usia puber dan faktor-faktor sosial serta psikologis yaitu kebutuhan untuk mandiri secara emosional dalam praktek sehari-harinya. (www.rahmadona.wordpress.com)
Masa remaja identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi dan membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan secara efektif tetapi remaja seringkali meluapkan kelebihan ernerginya ke arah yang tidak positif. Hal tersebut akan berpengaruh pada nilai dan norma yang dimiliki oleh para remaja, nilai dan norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang dikaguminya.
Para remaja juga memiliki tugas-tugas perkembangan yang perlu diketahui, antara lain remaja dapat menerima keadan fisiknya dan dapat memanfaatkan secara efektif, remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua, mengetahui dan menerima kemampuan sendiri, memperkuat penguasaan dari atas dasar skala nilai dan norma, emosinya tidak stabil, cara berpikirnya bersifat kausltar, dan terikat erat dengan kelompoknya. Hal-hal tersebut adalah dasar mudah tidaknya para remaja terpengaruh terhadap lingkungan atau apa yang terjadi di sekitarnya (www. Joksarsmagma.blogspot.com).
Peran aktif para remaja dalam kegiatan positif sangat dibutuhkan oleh masyarakat umum, karena remaja adalah generasi yang akan menjadi penerus generasi sebelumnya. Kemajuan suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh kualitas pemuda yang meliputi semua aspek kehidupan, seperti dalam hal pendidikan, kebudayaan, dan moral. Untuk membentuk remaja yang bisa menjadi harapan bangsa bukanlah hal yang mudah, tetapi usaha ini membutuhkan kerja keras dan kerjasama dari semua pihak, mulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga, kemudian perkampungan dimana mereka tinggal, lingkungan sekolah, sampai pada lingkungan dimana mereka berada dalam suatu negara.
Usia remaja memang masih sangat labil sehingga mudah untuk terpengaruh dengan keadaan di sekitar mereka, maka peran orang tua dalam perkembangan remaja sangat dibutuhkan. Kasih sayang dan perhatian dari orang tua sangat diperlukan untuk membentuk karakter mereka. Hal yang harus ditanamkan pada setiap pemuda sejak dini adalah agama, karena dengan diperkenalkan agama pada mereka, maka moral mereka akan terbentuk menjadi seorang pemuda yang agamis. Kita semua tidak bisa menafikan urgensitas agama, karena dengan agama manusia bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, serta dengan agama pula kita bisa tahu tentang tata cara hidup yang benar.
Selain menanamkan pengetahuan rohani (keagamaan) kepada pemuda, pendidikan juga menjadi hal yang sangat penting untuk ditekankan pada mereka sejak dini, karena kewajiban mencari limu adalah dari lahir sampai liang lahat. Pendidkan adalah alat yang akan membentuk generasi yang berilmu, karena dengan ilmu akan menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk yang lain. Di era modern ini, pemuda dituntut untuk bisa mengetahui banyak hal tentang perkembangan sains dan teknologi yang semakin canggih. Ini menjadi tantangan yang harus dihadapi, karena perkembangan keilmuan yang terus berkembang di belahan dunia. Ketika pemuda sudah dibekali dengan pengetahuan yang bagus maka akan menjadi modal besar bagi suatu bangs a untuk bisa bersaing dengan bangsa lain.
Pergaulan juga menjadi bahan yang perlu diperhatikan, karena pengaruh dari pergaulan bebas sangat dominan bagi para pemuda. Ketika mereka bergaul tanpa bisa memilih komunitas, maka mereka akan bisa terbawa arus. Sehingga maraknya pengisap narkoba dari kalangan remaja merupakan faktor pergaulan yang kurang hati-hati. Dalam hal ini peran orang tua atau keluarga, guru dan lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan, pemuka agama serta peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam kerjasama yang menyentuh semua elemen masyarakat untuk mewujudkan generasi yang pandai dan bermoral.
Kenakalan remaja
Kenakalan remaja merupakan gejala umum yang terjadi khususnya di kota-kota besar yang kehidupannya diwarnai dengan adanya persaingan-persaingan yang diwarnai dengan kebutuhan hidup baik yang dilakukan secara sehat maupun tidak sehat. Persaingan tersebut terjadi dalam segala aspek kehisupan khususnya kesempatann memperoleh pendidikan dan pekerjaan. Kompleksnya kehidupan tersebut memungkinkan terjadinya kenakalan remaja.
Kenakalan remaja merupakan perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa, ia berada pada masa transisi. Menurut Kartono, ilmuwan sosiologi, Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Sedangkan menurut Santrock, Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal (www.AsianBrain.com)
Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja
Perilaku nakal remaja bisa disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam diri remaja (internal) dan faktor dari luar remaja (eksternal).
Faktor internal
Faktor internal meliputi :
Krisis identitas, yaitu perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
Kontrol diri yang lemah, yaitu Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku nakal. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal meliputi :
Keluarga, perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja
Teman sebaya yang kurang baik
Komunitas atau lingkungan tempat tinggal yang kurang baik
2.2.2 Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja adalah:
1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
Dunia Narkotika
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat atau bahan berbahaya. Selain narkoba, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik narkoba atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini presepsi itu disalah gunakan akibat pemakaian yang telah diluar batas dosis.
Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tidak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang mencari mangsa di sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan genk. Tentu saja hal ini bisa membuat para orang tua, ormas, dan pemerintah khawatir akan penyebaran narkoba yang begitu merajarela. Upaya pemberantas narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus narkoba. Hingga saat ini upaya yang paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba pada anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga. Orang tua diharapkan dapat mengawasi dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi Narkoba.
Masalah utama remaja berawal dari pencarian jati diri. Mereka mengalami krisis identitas karena untuk dikelompokkan ke dalam kelompok anak-anak merasa sudah besar, namun kurang besar untuk dikelompokkan dalam kelompok dewasa. Hal ini merupakan masalah bagi setiap remaja di belahan dunia ini. Oleh karena pergumulan di masa remaja ini, maka remaja mempunyai kebutuhan sosialisasi yang seoptimal mungkin, serta dibutuhkan pengertian dan dukungan orangtua dan keluarga dalam kerentanan di masa remaja.
Bila kebutuhan remaja kurang diperhatikan, maka remaja akan terjebak dalam perkembangan pribadi yang lemah, bahkan dapat dengan mudah terjerumus ke dalam belenggu penyalahgunaan narkoba. Hingga sekarang, penyalahgunaan narkoba semakin luas di masyarakat kita, terutama semakin banyak di kalangan para remaja yang sifatnya ingin tahu dan ingin coba-coba. Banyak alasan mengapa banyak yang terjerumus ke bahan terlarang dan berbahaya ini kemudian tidak mampu melepaskan diri lagi, alasannya antara lain hal ini sudah dianggap sebagai suatu gaya hidup masa ini, dibujuk orang agar merasakan manfaatnya, ingin lari dari masalah yang ada, untuk merasakan kenikmatan sesaat, dan ketergantungan dan tidak ada keinginan untuk berhenti
dan mungkin masih banyak alasan lainnya.
Pada dasarnya narkoba itu dibagi atas 4 kelompok, yaitu:
1. narkotika, yaitu terutama opiat atau candu.
2. halusinogenik, misalnya ganja atau mariyuana
3. stimulan, misalnya ekstasi dan shabu-shabu
4. depresan, misalnya obat penenang.
Masing-masing kelompok mempunyai pengaruh tersendiri terhadap tubuh dan jiwa penggunanya. Bahan yang tergolong stimulan menimbulkan pengaruh yang bersifat merangsang sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan rangsangan secara fisik dan psikis. Ecstasy, yang tergolong stimulan, menyebabkan pengguna merasa terus bersemangat tinggi, selalu gembira, ingin bergerak terus, sampai tidak ingin tidur dan makan dan akibatnya dapat sampai menimbulkan kematian.
Sebaliknya bahan yang tergolong depresan menimbulkan pengaruh yang bersifat menenangkan. Depresan atau yang biasa disebut obat penenang, dibuat secara ilmiah di laboratorium. Berdasarkan indikasi yang benar, obat ini banyak digunakan sesuai dengan petunjuk dokter. Dengan obat ini, orang yang merasa gelisah atau cemas misalnya, dapat menjadi tenang. Tetapi bila obat penenang digunakan tidak sesuai dengan indikasi dan petunjuk dokter, apalagi digunakan dalam dosis yang berlebihan, justru dapat menimbulkan akibat buruk lainnya.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode Pengumpulan Data
Dengan meneliti realitas sehari-hari data dapat digolongkan atas sumber data sifat-sifat yang dikumpulkan. Jika ditinjau dari sumber data, yaitu dari mana diperoleh data dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data. Dalam hal ini dilakukan wawancara dengan orang-orang yang memang mengetahui hal itu baik yang diwariskan atau secara langsung. Data sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang di lur penelitian sendiri. Walaupun data yang dikumpulkan data asli, sumber data sekunder dilakukan dengan membaca literatur terutama literatur yang relevan dengan penelitian. Untuk mengumpulkan data primer, dilakukan metode pengumpulan data. Dalam metode ini cara yang digunakan adalah dengan metode interview pada sejumlah responden yang dipilih. Dalam hal ini peneliti memilih responden yang berada di Lapas Tenggarong di Kota Sangatta Kalimantan Timur untuk menjadi sampel dari para remaja di perkotaan.
Metode Pengolahan Data
Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul, langkah selanjutnya adalah mengolah data dengan metode tertentu.dari penyelesaian karya tulis ilmiah ini, yaitu dengan menggunakan metode analisis. Metode analisis digunakan untuk mengolah data-data yang diperoleh dari hasil wawancara dalam bentuk kuisioner. Analisis ini digunakan untuk membantu dalam memberikan solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan yang ada.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor yang Mendorong Remaja untuk Menyalahgunakan Narkoba
Penyalahgunaan narkoba oleh para remaja tidak lepas dari faktor pendorong yang ada dalam diri maupun luar remaja. Dari penelitian yang dilakukan, para remaja ternyata memiliki emosional yang tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Sifat emosional remaja inilah yang dapat menjadi motivasi internal remaja untuk mendorong mereka menyalahgunakan narkoba. Jika mereka bisa menjaga sifat emosional yang dimiliki, maka mereka akan terhindar dari hal-hal yang buruk. Selain itu aspek fisik yang mereka miliki juga akan mempengaruhi aktivitas mereka. Malas dan kurang bersemangat merupakan suatu hal yang sering terjadi dalam diri para remaja. Tidak sedikit para remaja yang ada di perkotaaan ini mengeluh dengan belajar mereka. Hal ini akan menjadi alasan utama yang mereka gunakan bila suatu hari mereka kedapatan malas belajar. Dengan malas dan kurang bersemangatnya para remaja ini akan mempengaruhi aktivitas mereka sehari-hari dan agar hal tersebut tidak menjadi pengahalang dalam aktivitas mereka, maka para remaja ini akan lebih memilih untuk mencoba menggunakan narkoba sebagai bentuk dari obat penyemangat mereka.
Selain faktor internal, faktor eksternal dari remaja juga akan sangat mempengaruhi dalam setiap tindakan yang mereka lakukan. Dari penelitian yang dilakukan, kebanyakan para remaja menyalahgunakan narkoba karena faktor coba-coba dan pengaruh dari teman. Faktor coba-coba itu timbul karena adanya rasa ingin tahu apa dan bagaimana narkoba itu. Dengan rasa ingin tahu yang berlebih ini para remaja akan semakin tertarik untuk mencoba menggunakan narkoba yang pada akhirnya akan menjadi kecanduan. Apalgi jika rasa ingin mencoba tersebut didorong oleh teman yang mempengaruhinya akan semakin kuat dorongan untuk melakukan hal tersebut. Dalam berteman, keberanian merupakan suatu hal yang sangat dikagumi oleh teman lainnya, terutama berani dalam mencoba suatu tantangan. Seseorang akan dianggap lemah jika ia tidak berani melakukan suatu tantangan tersebut bahkan ia aka dinggap sebagai seorang penghianat karena tidak mau mengikuti apa yang dilakukan oleh temannya. Agar dianggap sebagai seorang yang pemberani dihadapan teman-temannya, maka mereka akan berusaha melakukan apa yang diinginkan oleh temannya yang akhirnya ikut terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Tidak hanya itu, rayuan dan bujukan juga kerap mereka lakukan untuk bisa mempengaruhi mereka lainnya dengan mudah tanpa harus memaksa.
Banyaknya waktu luang yang dimiliki para remaja juga akan membuat mereka mereka mencari pelarian, yaitu dengan menggunakan narkoba. Menurut mereka, penggunaan narkoba akan menghilangkan rasa stres yang mereka rasakan selama tidak ada aktivitas atau kegiatan yang mereka lakukan. Selain itu pengaruh dari dalam keluarga juga akan sangat mempengaruhi perilaku para remaja. Terutama para remaja di perkotaan yang memang mulai dari kecil diasuh oleh pembantu atatu nenek mereka tanpa adanya pengawasan ketat dari orang tua. Hal terpenting bagi para orang tua di perkotaan adalah karir dan bagaimana mereka dapat mencukupi kebutuhan keluarga terutama anak-anak mereka. Kurangnya perhatian dari orang tua ini akan menjadi penyebab remaja untuk melakukan hal yang buruk. Mereka leluasa melakukan apapun tanpa harus diawasi dan dijaga oleh orang tua mereka. Para orang tua tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka karena ketidakpedulian yang mereka berikan untuk anak-anak mereka. Biasanya para orang tua mengetahui setelah mendapat informasi dari pihak lain bahwa anak-anak mereka telah menyalahgunakan narkoba dan penyesalan pun baru dirasakan. Perpecahan yang terjadi dalam keluarga juga dapat menjadi pemicu remaja di perkotaan dalam penyalahgunaan narkoba. Hal itu mereka lakukan karena mereka mencari pelampiasan untuk dapat menenangkan diri. Cara yang mereka lakukan ini sebenarnya hanya akan menambah beban hidup yang mereka alami karena narkoba bukan satu-satunya jalan untuk mengobati stres yang dialami dan justru akan meningkatkan tekanan hidup mereka.
Dari banyaknya faktor yang menjadi pendorong para remaja dalam penyalahgunaan narkoba, tidak sedikit pula para remaja yang mengakui bahwa penyalahgunaan itu mereka lakukan karena kurangnya nilai-nilai agama yang ada dalam diri mereka. Pendidikan agama memang sangat penting dalam pertumbuhan seorang remaja, lebih-lebih remaja di perkotaan yang sering menganggap bahwa agama hanya sebagai pendukung dalam hidup mereka. padahal tanpa agama seseorang akan lemah terhadap suatu godaan karena iman mereka yang rapuh.
Dampak yang Terjadi Akibat Penyalahgunaan Narkoba
Dari penelitian yang dilakukan, para remaja yang menyalahgunakan narkoba mengaku bahwa ada dampak yang terjadi pada diri mereka setelah mengkonsumsi narkoba. Dampak dari penyalahgunaan narkoba ini terjadi pada fisik mereka dengan tanda-tanda berat badannya turun secara drastis karena obat yang dikonsumsi lebih dominan daripada simultan dalam diri mereka. Dengan keadaan fisik remaja seperti ini justru hal tersebut akan mengganggu kegiatan mereka sehari-harinya. Memang narkoba menjadi obat untuk memicu semangat, tetapi itu hanya sementara dan dampak yang didapat jauh lebih besar dari manfaat yang diperoleh. Para remaja ini sebenarnya tahu akan risiko yang akan didapat setelah mengkonsumsi narkoba, tetapi yang terpenting bagi mereka adalah rasa puas yang mereka alami setelah menggunakan narkoba.
Pemakai atau pecandu narkoba ini juga akan mengalami perubahan emosi karena emosi juga menjadi faktor pendorong remaja untuk menyalahgunakan narkoba, sehingga emosi yang dimiliki para remaja ini akan menjadi lebih rentan dari sebelumnya. Emosinya menjadi lebih tidak stabil, lebih sensitif atau menjadi sangat pemarah, dan mudah bosan bahkan akan menghilangkan nafsu makan secara berlebih. Selain dampak fisik dan emosi, dampak penyalahgunaan narkoba terjadi pada dampak perilaku remaja. Dampak perilaku ini dapat diketahui dari perilaku remaja yang menjadi pemalas, suka berbohong, sering melupakan tanggung jawab, dan perilaku yang menunjukkan bahwa remaja itu lemah atau tidak bersemangat seperti suka menguap dan sering menyendiri. Dampak perilaku tersebut lebih mudah dikeahui dari dampak lainnya karena perilaku merupakan sesuatu yang mudah dinilai oleh masyarakat.
Cara Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba Oleh Remaja
Para remaja adalah generasi penerus bangsa yang akan memimpin negara menuju masa depan yang baik. Untuk mewujudkan masa depan bangsa yang cerah diperlukan remaja yang baik, sehingga perlu dilakukan adanya penanggulangan narkoba untuk menekan angka meningkatnya penyalahgunaan narkoba oleh remaja. Langkah awal untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cara mencegah penggunaan narkoba. Untuk mencegah kecanduan terhadap narkoba adalah dengan menjaga agar tidak mudah terpengaruh dan tidak mengkonsumsi kembali obat-obat terlarang. Selain itu juga perlu pihak lain untuk dapat mengatasi secara maksimal, yaitu pihak dokter, layanan masyarakat, dan keluarga dapat memberikan penjelasan secara detail efek dari obat terlarang dalam dosis berlebih terhadap tubuh kita.
Bentuk Penanggulangan Narkoba di Dalam Keluarga
Dalam keluarga, yang dapat dilakukan oleh para orang tua kepada anak-anaknya adalah dengan komunikasi. Sering berbicara antar orang tua dan anak, dengan memberikan informasi tentang resiko penggunaan dan penyalahgunaan narkoba atau obat-obat terlarang. Disamping berkomunikasi, para orang tua dapat menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya bila anak-anak sedang berbicara mengenai tekanan dengan teman sebaya mereka.
Orang tua juga menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya, dengan mencontohkan pengaruh buruk terhadap anak khususnya ketergantungan kepada obat terlarang, akan berdampak sangat buruk bagi perkembangan hidupnya dan efeknya akan lebih cepat untuk kecanduan Narkoba. Selain itu saling menjaga dalam keharmonisan keluarga akan memperkuat hubungan dalam keluarga itu sangat diperlukan, karena bila anak dikucilkan dalam keluarga, maka dia akan merasa asing, sendirian dan biasanya obat terlaranglah sebagai penghilang rasa stres yang diderita oleh si anak. Perhatian orang tua terhadap anak sangat penting untuk perkembangan mental dan fisiknya. Orang tua juga harus memberi pengertian dan bahaya tentang penyalahgunaan narkoba agar anak lebih mengerti arti pentingnya untuk menjauhi narkoba.
Bentuk Penanggulanan Narkoba di Luar Keluarga
Penanggulangan narkoba dapat dilakukan dengan melakukan program terapi. Terapi ini dilakukan agar pecandu remaja berhenti menggunakan obat-obat terlarang. Selain program terapi, para remaja yang menjadi pecandu narkoba atau keluarga dapat melakukan konsultasi kepada psikolog, atau psikiater. Kegiatan ini dapat membantu remaja tersebut terhindar dari kecanduan obat-obatan, kebiasaan atau perilaku terapi yang dijalankan akan membantu mereka apabila terjadi kambuh kecanduannya.
Pendidikan di kalangan anak muda juga merupakan kegiatan yang akan membantu para remaja menjadi lebih mengerti dan mengetahui arti pentingnya sebuah pendidikan dan pencegahan narkoba bagi remaja. Para pendidik memberi arahan dan contoh yang baik agar remaja tidak terjerumus dalam narkoba. Dengan adanya sosialisasi yang baik terhadap remaja ini akan sangat membantu remaja dalam memberikan informasi tersebut pada kalangan remaja lain. Setelah adanya sosialisasi tersebut para remaja juga harus pandai dalam memilih lingkungan mana yang dapat memberi efek positif dan negatif bagi diri mereka.
4.4 Pengaruh sosial terhadap keberadaan penyalahgunaan narkoba oleh remaja di perkotaan
Dalam bersosialisasi dengan lingkungan luar, para remaja yang telah menggunakan narkoba cenderung tertutup dengan orang lain. Mereka hanya berkomunikasi dengan kelompok tertentu atau hanya dengan teman-teman di kalangan mereka. Bahkan dengan orang tua pun mereka akan menutupi hal apa yang mereka lakukan. Hal ini terjadi karena mereka sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain, karena apa yang ingin mereka sampaikan tidak pernah tercapai pada orang yang ingin mereka tanyakan. Selain itu mereka sering linglung dan jika berkomunikasi sering tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan dengan orang lain, sehingga hal ini akan membuat orang lain tidak menganggap mereka. Oleh karena itu, para remaja ini akan lebih nyaman jika mereka bersama dengan kelompok tertentu yang mereka anggap lebih mengerti keadaan mereka.
Dampak sosial pada mereka pun akan terjadi jika orang lain atau masyarakat mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya. Mereka akan dikucilkan dan dijauhi oleh kelompok atau masyarakat lain karena keberadaan mereka akan dianggap sebagai aib yang akan mencemarkan nama baik di lingkugan sekitar mereka. selain itu keberadan mereka juga dapat membawa pengaruh yang besar terhadap lingkungan sekitar mereka. Dengan adanya ketakutan itulah yang juga menjadi pemicu para remaja ini menjadi cenderung memilih berkumpul dengan kelompok tertentu atau sekelompok mereka. Hal ini tentu saja akan memperburuk keadaan, untuk itu perlu adanya pelurusan dalam persepsi masyarakat agar dapat membantu dalam memberantas narkoba yang terjadi pada remaja.
BAB V
PENUTUP
5. 1 Kesimpulan
Penyalahgunaan narkoba oleh para remaja khususnya di perkotaan terjadi karena adanya faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi emosional yang tinggi dan aspek fisik yang dialami oleh para remaja. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor coba-coba atau rasa ingin tahu berlebih tentang narkoba, pengaruh dari teman, kurangnya perhatian keluarga, banyaknya waktu luang yang tidak bermanfaat, dan kurangnya nilai-nilai agama pada diri remaja. Menyalahgunakan narkoba akan membawa dampak yang besar pada remaja. Dampak tersebut akan terjadi pada fisik, emosi,dan perilaku para remaja. Agar penyalahgunaan tidak berkembang meluas, maka diperlukan adanya cara untuk menanggulangi penyalahgunaan narkoba. Cara tersebut dapat dilakukan dengan mencegah agar para remaja tidak terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba, yaitu dengan cara menjaga agar tidak sampai terpengaruh. Jika seorang remaja telah masuk ke dalam dunia narkoba, maka cara untuk menanggulanginya adalah dengan melakukan rehabilitasi atau perawatan jalan agar remaja tersebut tidak melakukan kesalahan yang sama. Cara lainnya dapat dilakukan dengan konsultasi pada psikolog dan memberikan pendidikan dengan cara memberikan pengarahan pada para remaja agar lebih mengetahui bahwa narkoba berbahaya untuk dikonsumsi terutama bagi para remaja di perkotaan. Dalam kehidupan sosial pun keberadaan para remaja ini cenderung sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain karena keakutan pada mereka akan dikucilkan dan tidak diterima keberadaanya oleh masyarakat.
Saran
Mengingat semakin banyaknya remaja yang menyalahagunakan narkoba sebagai bentuk dari pelampiasan emosi dan perilaku mereka, maka perlu dilakukan penanggulangan terhadap penyalahgunaan narkoba untuk dapat menekan angka penyalahgunaan oleh remaja terutama di perkotaan. Pelurusan persepsi masyarakat juga perlu untuk tidak memperburuk keadaan sehingga dapat membantu dalam upaya penanggulangan narkoba khususnya remaja di perkotaan.
DAFTAR PUSTAKA
www. Joksarsmagma.blogspot.com
Husein, F. (2008). Pemuda Harapan Bangsa. http://poltak4elreal.ngeblogs.com/2009/11/10/narkoba/ (16 Desember 2009)
http://www.tipstrik.com/tips-keluarga/ketika-anak-menggunakan-narkoba.html (16Desember 2009)
Bahasa Inggris
Febtian Yusvika Wahyu
(09100660041)
Land Use Planning and Climate Adaptation Planning
2009 California Climate Adaptation Strategy California’s Resource for Global Climate Change Information
Land use decisions are a central component of preparing for and minimizing climate change impacts. In order for California to succeed with its adaptation strategies, local and regional governments and planning efforts must be integral parts of the adaptation process.
Many, if not most, land use decisions in California are made at the local level and increasingly at the regional level. Decisions made by cities and counties through general plan and local planning processes direct local land uses. Given the long-range view of general plans, cities and counties should consider how a changing climate and environment will affect nearly all aspects of general plans and long-term development.
Through the implementation of Senate Bill 375 (Steinberg; Chapter 728, Statutes 2008) Metropolitan Planning Organizations (MPOs) will have greater influence on planning efforts and outcomes at the regional and local level.
Regional Transportation Plans, due to SB 375, developed through a “Sustainable Communities Strategy” will have to take into account GHG reduction measures related to land use and transportation, identify the general location of uses, residential penduduk densities, and building intensities within the region, and identify areas within the region sufficient to house all the population of the region. The state plays a role in local development patterns through the development and funding of the state transportation system, the sitting requirements for school facilities and other infrastructure projects and funding mechanisms.
Development decisions along the coast, in floodplains or at the wild land-urban interface will impact the ability of the state to adapt to climate change impacts.
Decisions related to urban forestry, the connectivity of biological reserves, and the routing of roads and other infrastructure also play a role in implementing state adaptation strategies. Local land use planning should be cognizant of the growing risks from climate change as well as the land-use related needs to implement effective adaptation strategies. To the extent local land use is coordinated with regional, state and federal adaptation strategies, impacts from climate change are likely to be minimized, and in turn have less significant effects on local communities. The long-term vision and development goals of general plans should therefore oleh address climate change as soon as possible. Coordination and consultation mechanisms need to be established or strengthened to ensure local, state, and other jurisdictions do not work at cross- purposes (see cross-jurisdictional coordination above).
In order to accurately address the vulnerability, resilience and future growth of areas prone to climate change impacts, a city or county should take three distinct steps:
First, cities and counties should use information provided by state and federal agencies about where climate change could impact the human and natural systems including risks affecting public safety and emergency response. The Cal Adapt mapping tools will offer a preliminary review of impacts by specific location. This could be used to focus local planning on areas vulnerable to climate change impacts such as floodplains, coastal areas, and fire hazard areas. Critical infrastructure such as roads, power lines, and water/wastewater pipelines that may be affected by climate change should be identified.
Second, planning organizations should recognize climate impacts that may affect federal, state or local, as these systems offer valuable recreational opportunities critical to the well being of all communities.
Third, sources of water that may be reduced by increased temperatures and decreased Sierra snowpack-dependent reservoir storage should be identified.
Once these potential areas have been identified, cities and counties should focus, when appropriate, on areas that are particularly vulnerable to climate change. Using the best available resources, local governments should note which areas can or cannot withstand changes in sea level, water use, temperature, and other climate change impacts. Areas that cannot withstand changes can be prioritized by potential safety risks, potential biological or natural impacts, or other factors. The local government should determine which areas will need the most attention to avert these risks. The 2009 California Climate Adaptation Strategy can be a valuable resource in making these determinations if effective adaptation planning tools are continually developed.
There are a number of ways to address climate change impacts. For future land use decisions, general plan amendments may be needed. Safety risks may be outlined and mitigated in a Local Hazard Mitigation Plan. To address public infrastructure, a public works plan may be needed. A climate action plan may be used to prioritize actions that are immediately needed and which actions can be implemented over time.
One tool that has been successful in helping to bring together many levels of government to look at long range planning on the regional and local scale is the California Regional Blueprints Program. Through the development of scenario-based integrated plans, regions and local governments can develop different planning scenarios that achieve a variety of objectives and goals, including GHG reduction and climate change adaptation. Further, the blueprint planning process can help identify areas vulnerable to climate change and identify ways to address those vulnerabilities in an integrated and comprehensive manner. Another tool that can regionally integrate different levels of government around climate adaptation is through the Department of Conservation’s Statewide Watershed Program.
As the state works to meet its GHG reduction goals, adapt and plan for climate change impacts, and restore the economy, the entire state, including all levels of government, non-profits, businesses, private property owners and the general population should, when appropriate, evaluate how and where critical infrastructure is developed, what types of structures are allowed to be built in certain locations, and how to best protect natural resources.
Finally, more and more infrastructure projects will need to account for climate change impacts to the project. Currently, to the extent required by CEQA Guidelines Section 15126.2, all significant state projects, including infrastructure projects, must consider the potential impacts of locating such projects in areas susceptible to hazards resulting from climate change. Section 15126.2 is currently being proposed for revision by CNRA to direct lead agencies to evaluate the impacts of locating development in areas susceptible to hazardous conditions, including hazards potentially exacerbated by climate change. Locating state projects in such areas may require additional guidance yang that in part depends on planning tools that the CAS recommendations call for.
Near-Term Actions:
a.) Revise Section 15126.2 of the CEQA guidelines to direct lead agencies to evaluate the impacts of locating development in areas susceptible to hazardous conditions, including hazards potentially exacerbated by climate change.
b.) Incorporate climate adaptation considerations into the Strategic Growth Council and Sustainable Community Strategy processes to ensure incentives are provided to communities that are most vulnerable and are preparing for climate change impacts.
Resume
Land Use Planning and Climate Adaptation Planning
2009 California Climate Adaptation Strategy California’s Resource for Global Climate Change Information
Land use decisions are a central component of preparing for and minimizing climate change impacts. Land use decisions in California are made at the local level and increasingly at the regional level and made by cities and counties through general plan and local planning processes direct local land uses. Given the long-range view of general plans, cities and counties should consider how a changing climate and environment will affect nearly all aspects of general plans and long-term development.
Metropolitan Planning Organizations (MPOs) have greater influence on planning efforts and outcomes at the regional and local level. Regional Transportation Plans developed through a Sustainable Communities Strategy and the state plays a role in local development patterns through the development and funding of the state transportation system.
Development decisions along the coast, in floodplains or at the wild land-urban interface will impact the ability of the state to adapt to climate change impacts
Decisions related to urban forestry, the connectivity of biological reserves, and the routing of roads and other infrastructure play a role in implementing state adaptation strategies. Address climate change is significant to the long-term vision and development goals of general plans. Coordination and consultation mechanisms need to be established or strengthened to ensure local, state, and other jurisdictions do not work at cross- purposes
Three steps address the vulnerability, resilience and future growth of areas prone to climate change impacts are :
First, cities and counties use information about where climate change could impact the human and natural systems including risks affecting public safety and emergency response. The Cal Adapt mapping could be used to focus local planning on areas vulnerable to climate change impacts. Critical infrastructure that may be affected by climate change should be identified.
Second, planning organizations should recognize climate impacts that may affect federal, state or local
Third, areas that cannot withstand changes can be prioritized by potential safety risks, potential biological or natural impacts. The local government should determine which areas will need the most attention to avert these risks. The 2009 California Climate Adaptation Strategy can be a valuable resource in making these determinations if effective adaptation planning tools are continually developed.
A number of ways to address climate change impacts are plan amendments and safety risks. To address public infrastructure, a public works plan may be needed. A climate action plan may be used to prioritize actions that are immediately needed and which actions can be implemented over time
The tools that has been successful in helping to bring together many levels of government to look at long range planning on the regional and local scale are the California Regional Blueprints Program and the Department of Conservation’s Statewide Watershed Program. Further, the blueprint planning process can help identify areas vulnerable to climate change and identify ways to address those vulnerabilities in an integrated and comprehensive manner
Finally, infrastructure projects will need to account for climate change impacts to the project. and locating state projects in such areas may require additional guidance that in part depends on planning tools.
Near-Term Actions:
a.) Revise Section 15126.2 of the CEQA guidelines to evaluate the impacts of locating development in areas susceptible to hazardous conditions.
b.) Incorporate climate adaptation considerations into the Strategic Growth Council and Sustainable Community Strategy processes to ensure incentives are provided to communities that are most vulnerable and are preparing for climate change impacts.
Febtian Yusvika W
(09100660041)
Passive voice
1. The window is opened by Andi
2. A new ring road is being built by them right now
3. The report will be read by the manager tomorrow
4. I was invited by my friend to his party yesterday morning
The packages have been delivered by us
6. Rice had been cooked by my mother before my father came
7. A new car is being driven by the driver at the moment
8. A book is going to be given to me by Rita
9. The door was being opened by Dheny when I came
10. The class of school must be cleaned by the students
11. A delicious cake has been made by the chef in the restaurant
12. The mouse was chased by two cat in my house
13. The visitors were welcome by the host
14. A letter will be sent by Rahmat to the post office
15. My brother’s house was broken by two thief last night
Bahasa Indonesia
SISTEM PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN AIR BERSIH SEBAGAI SUMBER AIR YANG SEHAT
Febtian Yusvika Wahyu
091066004
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya
SISTEM PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN AIR BERSIH SEBAGAI SUMBER AIR YANG SEHAT
Febtian Yusvika Wahyu 0910660041
Fakultas Teknik, jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya
Email : akcheivad@ymail.com
Abstrak
Kondisi air bersih dari sungai, hujan, dan air tanah yang tercemar akibat kegiatan industri dan irigasi pertanian mengakibatkan rendahnya kualitas air yang dikonsumsi oleh masyarakat. Ketersediaan air pun semakin langka dengan meningkatnya jumlah permintaan air oleh penduduk. Studi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sistem pengelolaan dan pengolahan air bersih agar kebutuhan masyarakat terhadap air terpenuhi dengan baik. Proses pengolahan air dapat dilakukan dengan menggunakan sumber air yang berasal dari sungai, tanah, dan air pegunungan dengan skala atau standar air minum. Proses pengolahan air tersebut antara lain proses penampungan air, proses oksidasi, pengendapan atau koagulasi, filtrasi, dan pembunuhan bakteri, jamur, dan virus. Ada tiga prinsip dalam pengelolaan air bersih yaitu konservasi, ketahanan, dan sistem melingkar. Dalam penggunaan air bersih, kebutuhan air oleh kegiatan industri, irigasi, dan rumah tangga harus dapat diseimbangkan dengan baik. Persediaan air dapat dikembangkan dengan cara menyediakan sarana pembuangan limbah air atau sarana sanitasi. Diharapkan dengan adanya sistem pengelolaan dan pengolahan air ini dapat membantu dalam mengatasi masalah air yang ada di masyarakat untuk mendapatkan sumber air yang sehat.
Kata kunci: sumber air, pengelolaan dan pengolahan air bersih
Abstract
Condition of potable water from river, rain, and ground water that was polluted by industry and agriculture irrigation resulted low quality of water that consumed by society. Available of water become more rare by the increasing number of water demand. This study conducted to examine how manage and produce working system of potable water. In order to accommodate society basic need of clean water. The processing water can be done with mutual resources of water such as river, soil, and spring water and this process can be done by standard of drink water. That process are process of collecting and saving water, oxidation, coagulation, filtration, and sterility of bacteria, fungus, and virus. Conservation, tenacity, and ring system are three principle in manage of water. In use of water resources, need of water by industry, irrigation, and households must be considered well. Available of water can be increased with give the medium of water waste or medium of sanitation. By the manage and produce working system of potable water can be problem of water in society.
Key words: water resources, management and produce working systems of potable water
Pendahuluan
Air merupakan unsur utama bagi hidup manusia di bumi ini. Manusia mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air manusia akan mati dalam beberapa hari saja. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern, air juga merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi. Semua orang berharap bahwa seharusnya air diperlakukan sebagai bahan yang sangat bernilai, dimanfaatkan secara bijak, dan dijaga dari pencemaran. Kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Hampir penduduk di Indonesia menderita penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air atau oleh air yang tercemar.
Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaannya yang melebihi kapasitas untuk dapat diperbaharui. Selain itu, kegiatan irigasi pertanian juga akan mencemari air. Padahal masyarakat sangat membutuhkan air bersih dalam melakukan kegiatan sehari-hari, sehingga pengadaan perubahan radikal dalam memanfaatkan air sangat perlu untuk mengantisipasi jika suatu saat air tidak dapat digunakan lagi tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi masyarakat.
Orang memang memahami masalah pencemaran dan lingkungan yang biasanya merupakan akibat perindustrian maupun irigasi pertanian, tetapi tetap saja tidak menyadari implikasi penting yang dapat terjadi. Masalah persediaan air tidak dapat ditangani secara terpisah dari masalah lain. Buangan air yang tak layak dapat mencemari sumber air, dan sering kali tidak teratasi. Ketidaksempurnaan dalam layanan pokok sistem saluran hujan yang kurang baik dan pembuangan limbah padat yang jelek juga dapat mengakibatkan hidup orang sengsara. Oleh karena itu, perlu adanya pemikiran yang sangat penting dalam jangka panjang dari segi pengintegrasian layanan-layanan lingkungan ke dalam suatu paket pengelolaan air, pengolahan, dan penggunaan air.
Ketersediaan dan Kelangkaan Air
Air merupakan elemen yang paling melimpah di atas bumi, yang meliputi 70 % permukaannya dan berjumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik. Apabila dituang merata di seluruh permukaan bumi akan terbentuk lapisan dengan kedalaman rata-rata 3 kilometer. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003 %. Sebagian besar air, kira-kira 97 %, ada dalam samudera atau laut dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk keperluan yang banyak. Dari 3 % sisanya yang ada, hampir 87 % tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.
Dalam satu tahun, rata-rata jumlah tersebut tersisa lebih dari 40.000 kilometer kubik air segar yang dapat diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Bandingkan dengan jumlah penyedotan yang kini hanya ada sedikit di atas 3.000 kilometer kubik tiap tahun. Ketersediaan ini (sepadan dengan lebih dari 7.000 meter kubik untuk setiap orang) sepintas terlihat cukup untuk menjamin persediaan bagi setiap penduduk, tetapi kenyataannya air tersebut seringkali tersedia di tempat yang tidak tepat.
Selain itu, angka curah hujan sering kurang dapat dipercaya, sehingga persediaan air yang nyata sering jauh di bawah angka rata-rata yang ditunjukkan. Pada musim penghujan, biasanya terjadi hujan yang sangat hebat dan hanya terjadi beberapa bulan setiap tahun. Bendungan dan tandon air yang mahal diperlukan untuk menyimpan air pada musim kemarau dan untuk menekan kerusakan musibah banjir. Bahkan di kawasan basah ini angka yang turun naik dari tahun ke tahun dapat mengurangi persediaan air yang akan terasa secara nyata.
Pembagian dan pemanfaatan air selalu merupakan isu yang dapat mengakibatkan pertengkaran dan sering terjadi emosi di antara penduduk. Jumlah penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan kebutuhan akan air pun meningkat dan air yang bermutu bagus semakin sulit didapatkan.
Masalah terbesar mengenai persediaan air berkembang tidak hanya dari masalah kelangkaan air dibanding dengan jumlah penduduk, tetapi dari kekeliruan menentukan kebijakan tentang air, dan baru menyadari masalah-masalah tersebut lama setelah akibat yang tidak dikehendaki menjadi kenyataan. Jadi meskipun penambahan investasi dalam sektor ini diperlukan, penambahan itu perlu disertai dengan perubahan. Prioritas utama haruslah pada cara pemanfaatan paling bijak terhadap investasi besar yang telah ditanam dalam sektor ini setiap tahun.
Penyediaan dan Pemakaian Air
Linsley et al. (1992) berpendapat bahwa penyediaan air (water supply) adalah penyediaan air yang mampu menyediakan air minum (portable water) dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan permukiman. Dari pengertian ini penyediaan air merupakan upaya memindahkan air dari sumber air sampai ke tempat yang membutuhkan air baik untuk keperluan rumah tangga maupun bukan rumah tangga.
Penyediaan air di Indonesia merupakan penyediaan air baku (raw water), yaitu air yang dapat digunakan sebagai bahan baku sebelum pemakaian untuk kepentingan rumah tangga, sarana prasarana sosial, pengendalian polusi, industri, infrastruktur pemerintah dan swasta, dan pertanian. Penyediaan air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum secara operasional dapat diperoleh dari sumur, sungai, danau,dan mata air (Agung, 2000).
Penyediaan sarana air bersih banyak yang tidak berfungsi dan sebagian besar mengalami kegagalan. Proyek air yang dibangun tidak berfungsi dan mengalami kegagalan karena tidak memperhatikan aspek sosial demografi dan budaya masyarakat setempat (Nyong & Kanaroglou, 1999)
Sedangkan pemakaian air menurut Mays dan Tung (1992) mengelompokkan pemakaian air (water use) menjadi dua, yaitu penggunaan konsumsi (consumptive use) dan penggunaan bukan konsumsi (nonconsumtive use). Penggunaan konsumsi meliputi kebutuhan air untuk pemakai permukiman kota, pertanian, industri, dan pertambangan. Sedangkan air bukan konsumsi berupa penggunaan air secara langsung pada badan sungai (instream) untuk penggunaan lain seperti tenaga air (hydropower), transportasi, dan rekreasi. Penggunaan air (water use) adalah jumlah air yang diperlukan untuk mencapai suatu sasaran, sedangkan kebutuhan air (water demand) adalah pengaturan jumlah air yang digunakan konsumen persatuan waktu pada tingkat harga air tertentu.
Ghee (1991) mengelompokkan kebutuhan air suatu permukiman meliputi air untuk rumah tangga (domestic), air untuk perdagangan dan industri (commercial and industrial), air untuk penggunaan umum (public use), kehilangan air pada jaringan pipa dan penggelontoran (loss and waste).
Sumber air bersih
Air bersih adalah salah satu jenis sumber daya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi. Untuk konsumsi air minum, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, masih terdapat risiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri misalnya Escherichia coli atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga mendidih masih terdapat banyak zat berbahaya terutama logam dan tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.
Sumber air bersih dapat diperoleh melalui sungai, curah hujan, air permukaan tanah, dan air bawah tanah. Hujan dimanfaatkan sebagai sumber dari air bersih, sumber air ini digunakan oleh perorangan atau berkelompok dan pemerintah biasanya membangun bendungan dan tandon air yang mahal untuk menyimpan air bersih pada saat musim kemarau dan untuk menekan kerusakan musibah banjir. Rata-rata air bersih yang diperoleh dari sungai adalah lebih dari 40.000 kilometer kubik air segar diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Ketersediaan air ini lebih dari 7.000 meter kubik untuk setiap orang yang sepintas terlihat cukup untuk menjamin persediaan yang cukup bagi setiap penduduk, tetapi kenyataannya air tersebut sering tersedia di tempat yang tidak tepat.
Penyalahgunaan dan Pencemaran Air Bersih
Sumber-sumber air bersih yang diperoleh dari sungai, hujan, dan tanah biasanya terganggu akibat penggunaan dan penyalahgunaan sumber air seperti pertanian, industri, dan eksploitasi sumber air secara keseluruhan oleh rumah tangga. Pada pertanian, penghamburan air akibat ketiadaan penyaluran air yang baik pada lahan yang diairi dengan irigasi (untuk penghematan dalam jangka pendek) dapat berakibat terjadinya kubangan dan penggaraman yang mengakibatkan hilangnya produktivitas air dan tanah.
Pada industri, air yang digunakan lebih sedikit dari air yang digunakan pada irigasi pertanian, namun penggunaan air pada bidang industri berdampak lebih parah dari penggunaan air pada bidang pertanian. Penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional dan cenderung berlebihan. Selain itu pembuangan limbah industri yang tidak diolah dapat mengakibatkan pencemaran bagi air permukaan atau air bawah tanah sehingga menjadi terlalu berbahaya untuk dikonsumsi. Air buangan industri sering dibuang langsung ke sungai dan saluran-saluran, mencemari sungai itu, dan pada akhirnya mencemari lingkungan laut, kadang-kadang buangan tersebut dibiarkan meresap ke dalam sumber air tanah tanpa melalui proses pengolahan apapun. Kerusakan yang diakibatkan oleh buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan kimia modern begitu kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat air dalam volume yang sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa proses pengolahan khusus.
Sistem Pengolahan Air Bersih
Sistem pengolahan air bersih dapat dilakukan dengan menggunakan sumber air baku sungai, tanah, dan air pegunungan dengan skala atau standar air minum dan memerlukan beberapa proses. Proses yang perlu diterapkan tergantung dari kualitas air baku tersebut.
Proses yang diterapkan dalam sistem pengolahan air bersih antara lain :
1. Proses penampungan air dalam bak penampungan air yang bertujuan sebagai tolak ukur dari debit air bersih yang dibutuhkan. Ukuran bak penampungan disesuaikan dengan kebutuhan (debit air) dengan ukuran bak dua kali dari kebutuhan
2. Proses oksidasi atau penambahan oksigen ke dalam air agar kadar logam berat serta zat kimiawi lainnya yang terkandung dalam air mudah terurai. Dalam proses ini dilakukan penambahan oksigen dengan sistem aerasi yang menggunakan alat aerator dan juga dapat dilakukan dengan menggunakan katalisator, yaitu bahan kimia untuk mempercepat proses terurainya kadar logam berat serta zat kimiawi lainnya dengan menggunakan clorine, kaporite, dan kapur.
3. Proses pengendapan atau koagulasi, yaitu proses yang dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti bahan koagulan (Hipoklorite/PAC) dengan rumus kimia. Proses ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan teknik lamela plate.
4. Proses filtrasi (carbon actived), proses ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang masih terkandung dalam air dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas air agar air yang dihasilkan tidak mengandung bakteri (sterile) sera menghilangkan rasa dan aroma air. Biasanya proses ini menggunakan bahan sand filter yang disesuaikan dengan kebutuhan baik debit maupun kualitas air dengan media filter, yaitu silica sand atau quarsa dan zeolite.
5. Proses pembunuhan bakteri, virus, jamur, dan makroba bertujuan untuk mengurangi patogen yang ada, proses ini menggunakan proses chlorinator atau sterilisasi dengan menggunakan kaporit.
Tiga Prinsip dalam Pengelolaan Air Bersih untuk Mendukung Pembangunan Masa Depan yang Sehat
Untuk mendapatkan air bersih yang sehat, perlu adanya prinsip dalam pengelolaan air bersih untuk mendukung pembangunan masa depan yang sehat. Ada tiga macam prinsip dalam pengelolaan air, yang pertama adalah konservasi, konservasi berarti menggunakan air hanya secukupnya untuk memenuhi kebutuhan tanpa pemborosan. Konservasi yang efektif biasanya meliputi suatu paket langkah pengendalian kebocoran, penggunaan peralatan untuk penghematan air, tarif yang berdaya mencegah pemborosan, dan kampanye untuk mendorong konsumen lebih sadar terhadap akibat penggunaan yang boros.
Kedua adalah ketahanan yang berarti penggunaan teknologi dan sistem yang selalu siap bekerja dengan sumber-sumber daya yang dapat diperoleh dari lingkungan masyarakat yang dilayani tanpa ketergantungan yang berlebih pada masukan dari luar. Sumber daya ini tidak hanya keuangan, tetapi juga mengelola sistem dan ketrampilan yang diperlukan untuk merawat dan memperbaiki peralatan yang telah dipasang. Ketahanan peduli terhadap penggunaan sistem air minum dan sanitasi yang disenangi masyarakat dan juga peduli terhadap partisipasi masyarakat dalam memilih teknologi yang akan diterapkan dan dalam menentukan cara mengelolanya, demikian juga dalam perencanaan, konstruksi, manajemen, dan operasi dan pemeliharaan yang tepat. Sistem yang tidak mampu berjalan atau yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat yang seharusnya dilayani merupakan penyia-nyiaan investasi sumberdaya.
Prinsip ketiga adalah sistem melingkar (Circular System). Dengan meningkatnya tekanan jumlah penduduk terhadap sumber daya yang terbatas, maka kita perlu memikirkan sistem melingkar dan bukan garis lurus. Kota yang membuang polusinya ke saluran air dan mengakibatkan masalah bagi orang lain dan tidak bisa diterima lagi. Sebaliknya, air limbah yang telah diolah seharusnya dianggap sebagai suatu sumber bernilai yang dapat dipakai
Perlunya Paradigma Baru dalam Pengelolaan Air Bersih
Perusahaan Daerah Air Minum selalu menyelesaikan permalahannya secara reaktif. Solusi yang diambil selalu didasarkan pada satu aspek tanpa melihat aspek lain yang terkait, misalnya kerugian yang dialami oleh PDAM selalu diatasi dengan meningkatkan tarif dasar air tanpa melihat sebab dari permasalahan lain. Keadaan tersebut membuat PDAM di Indonesia mengalami penurunan secara terus menerus setiap tahunnya. Oleh karena itu diperlukan paradigma baru untuk mengganti paradigma lama. Paradigma baru memandang permasalahan pengelolaan air bersih dari seluruh aspek yang terkait. Aspek yang terkait tersebut adalah aspek lingkugan sosial, lingkungan fisik, teknologi, kelembagaan, keuangan, tingkat pelayanan, dan efisiensi pengelolan.
Pemecahan masalah secara komprehensif membutuhkan pemahaman secara baik tentang faktor yang menimbulkan masalah dan hubungan antara setiap elemen. Oleh karena itu analisis dan formulasi permasalahan menjadi sebuah tahap penting sebelum berpikir sebuah strategi secara menyeluruh dalam memecahkan masalah. Paradigma baru dibutuhkan untuk mengganti paradigma lama karena dinilai gagal dalam memahami kompleksitas permasalahan secara menyeluruh. Penerapan paradigma baru tersebut dapat membantu untuk memahami kompleksitas permasalahan secara menyeluruh dan memecahkan permasalahan yang dialami, sehingga dapat mewujudkan pelayanan air bersih secara berkelanjutan.
Strategi Penggunaan Air Bersih
Selain untuk kebutuhan irigasi, air yang diambil dari lapisan sumber air bawah tanah dapat dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Hal ini bertujuan untuk mencegah perembesan air garam di sepanjang pantai dengan memasukkan air ke jaringan-jaringan tersebut dan dengan kewaspadaan yang benar. Selain itu, unsur hara dalam limbah sebaiknya tidak begitu saja dibuang yang dapat mengakibatkan terjadinya rawa-rawa (eutrophication) di saluran dan sungai. Setiap hari ribuan ton unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan potasium, mengalir dari desa ke kota dalam bentuk makanan. Di seluruh dunia, lebih dari dua per tiga unsur hara yang terdapat dalam limbah manusia di buang ke lingkungan dalam bentuk limbah cair yang tidak diolah dan tentu saja unsur hara yang hilang ini pada akhirnya harus diganti dengan pupuk petrokimia.
Persediaan air harus dikembangkan secara seimbang untuk meningkatkan kuantitas persediaan air. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menyediakan sarana pembuangan limbah air atau sarana sanitasi pokok sehingga tingkat kesehatan akan meningkat dengan adanya lingkungan dan air yang bersih
Proses pengambilan keputusan juga perlu diperbaiki. Terlalu banyak usulan proyek yang diterima hanya berdasarkan rendahnya biaya modal awal, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor penting lainnya yang berhubungan dengan ketahanan (sustainability). Selanjutnya, akibat jangka panjang yang tak bisa diperbaiki, karena merosotnya mutu lingkungan dan habisnya sumber daya perlu dinilai secara lebih realistis agar pengurasan dan pencemaran air oleh industri dan kota bukan lagi merupakan strategi yang secara komersial dianggap sehat.
Penutup
Kesimpulan
Air merupakan unsur utama hidup manusia yang sangat dibutuhkan oleh semua orang. Tanpa air semua makhluk yang ada di bumi akan mati. Air dapat diperoleh dari sumber air seperti sungai, curah hujan, dan air tanah, tetapi sumber-sumber air tersebut telah tercemar oleh kegiatan industri dan pembuangan limbah rumah tangga. Ketersediaan air saat ini pun semakin langka karena meningkatnya jumlah permintaan akan kebutuhan air oleh penduduk. Penyediaan air pun dapat dilakukan oleh PDAM yang diperoleh dari sumur, sungai, danau, dan mata air. Untuk penggunaannya ada dua macam yaitu penggunaan konsumsi dan penggunaan bukan konsumsi. Penggunaan konsumsi digunakan untuk penduduk permukiman kota, pertanian, industri, dan pertambangan. Sedangkan air bukan konsumsi berupa penggunaan air secara langsung pada badan sungai (instream) untuk penggunaan lainnya seperti tenaga air (hydropower), transportasi, dan rekreasi.
Untuk dapat memperoleh dan menggunakan air yang bersih dan sehat perlu adanya pengolahan yang baik. Pengolahan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan sumber air baku sungai, tanah, dan air pegunungan dengan skala atau standar air minum dan memerlukan proses untuk melakukannya. Proses tersebut adalah proses penampungan air, proses oksidasi atau penambahan oksigen ke dalam air, pengendapan atau koagulasi, filtrasi, dan pembunuhan bakteri, jamur, dan virus. Dalam pengelolaan air bersih ada tiga prinsip yang dilakukan, yaitu konservasi, ketahanan, dan sistem melingkar. Ketiga prinsip ini bertujuan untuk mendukung pembangunan masa depan yang sehat dan menciptakan masyarakat yang sehat juga.
Strategi penggunaan air pun juga harus dapat diseimbangkan antara pemakaian yang satu dengan yang lainnya atau dapat saling mengganti agar tidak boros dalam pemakaiannya seperti kebutuhan air untuk irigasi yang belum berfungsi dialihkan pada jaringan rumah tangga agar sumber air terpakai. Penerapan paradigma baru dalam mengganti paradigma lama akan membantu untuk memahami kompleksitas permasalahan secara menyeluruh dan memecahkan permasalahan yang dialami, sehingga dapat mewujudkan pelayanan air bersih secara berkelanjutan. Selain itu untuk menciptakan lingkungan yang sehat dengan sumber air yang sehat diperlukan suatu keputusan yang bijak agar pembangunan yang ada di Indonsia ini terarah dengan sumber daya air yang baik.
Saran
Studi lanjutan dalam pengelolaan dan pengolahan air bersih akan membantu masyarakat dalam kebutuhan akan air dan mendukung terciptanya pembangunan masa depan yang sehat.
Daftar Pustaka
Syahrani, Djoko L., & Fatchan N (2004). Analisis Peranserta Masyarakat dalam Pengelolaan Air Bersih. Jurnal Manusia dan Lingkungan. XI (2): 86-95.
Ghee, TJ. (1991). Water Supply & Sewerage. Sixth Edition. McGraw-Hill Book. Singapore, 2, 10-11
Linsley, R.K., and J.B Franzini, D,L. Freyberd, G. Tchobanoglous. (1992). Water Resources Engineering. Fourth and Management. McGraw-Hill Book Co. Singapore, 497
Mays, L.W. and Y.K. Tung. 1992. Hydro System Engineering and Management. McGraw-Hill Book Co. Singapore, 221-222.
Nyong, A.O. and P.S. Kanaroglou. 1999. Domestic Water Use in Rural Semiarid Africa : A Case Study of Katako Village in Northeastern Nigeria. The Journal of Human Ecology. Vol.27, No.4, 1999. McMaster University Hamilton.
Middleton, R. (2004). Air Bersih Sumber Daya yang Rawan, Malang: IKIP Malang, http://jakarta.usembassy.gov/ptp/airbrs1.html (21 Desember 2009)
Awaluddin, N. (2007). Teknologi Pengolahan Air Tanah Sebagai Sumber Air Minum Pada Skala Rumah Tangga, Jakarta: http://unlastnoel.files.wordpress.com/2009/04/awaluddin-in-teknologi-air-minum-pam-ftsp-uii1.pdf (21 Desember 2009)
Pramono, S. S., (2001) Pendekatan Sistem pada Pengelolaan Air Bersih di Indonesia, Bandung: http://repository.gunadarma.ac.id:8000/browse.php?nfile=633






