SISTEM PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN AIR BERSIH SEBAGAI SUMBER AIR YANG SEHAT
Febtian Yusvika Wahyu
091066004
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya
SISTEM PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN AIR BERSIH SEBAGAI SUMBER AIR YANG SEHAT
Febtian Yusvika Wahyu 0910660041
Fakultas Teknik, jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya
Email : akcheivad@ymail.com
Abstrak
Kondisi air bersih dari sungai, hujan, dan air tanah yang tercemar akibat kegiatan industri dan irigasi pertanian mengakibatkan rendahnya kualitas air yang dikonsumsi oleh masyarakat. Ketersediaan air pun semakin langka dengan meningkatnya jumlah permintaan air oleh penduduk. Studi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sistem pengelolaan dan pengolahan air bersih agar kebutuhan masyarakat terhadap air terpenuhi dengan baik. Proses pengolahan air dapat dilakukan dengan menggunakan sumber air yang berasal dari sungai, tanah, dan air pegunungan dengan skala atau standar air minum. Proses pengolahan air tersebut antara lain proses penampungan air, proses oksidasi, pengendapan atau koagulasi, filtrasi, dan pembunuhan bakteri, jamur, dan virus. Ada tiga prinsip dalam pengelolaan air bersih yaitu konservasi, ketahanan, dan sistem melingkar. Dalam penggunaan air bersih, kebutuhan air oleh kegiatan industri, irigasi, dan rumah tangga harus dapat diseimbangkan dengan baik. Persediaan air dapat dikembangkan dengan cara menyediakan sarana pembuangan limbah air atau sarana sanitasi. Diharapkan dengan adanya sistem pengelolaan dan pengolahan air ini dapat membantu dalam mengatasi masalah air yang ada di masyarakat untuk mendapatkan sumber air yang sehat.
Kata kunci: sumber air, pengelolaan dan pengolahan air bersih
Abstract
Condition of potable water from river, rain, and ground water that was polluted by industry and agriculture irrigation resulted low quality of water that consumed by society. Available of water become more rare by the increasing number of water demand. This study conducted to examine how manage and produce working system of potable water. In order to accommodate society basic need of clean water. The processing water can be done with mutual resources of water such as river, soil, and spring water and this process can be done by standard of drink water. That process are process of collecting and saving water, oxidation, coagulation, filtration, and sterility of bacteria, fungus, and virus. Conservation, tenacity, and ring system are three principle in manage of water. In use of water resources, need of water by industry, irrigation, and households must be considered well. Available of water can be increased with give the medium of water waste or medium of sanitation. By the manage and produce working system of potable water can be problem of water in society.
Key words: water resources, management and produce working systems of potable water
Pendahuluan
Air merupakan unsur utama bagi hidup manusia di bumi ini. Manusia mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air manusia akan mati dalam beberapa hari saja. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern, air juga merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi. Semua orang berharap bahwa seharusnya air diperlakukan sebagai bahan yang sangat bernilai, dimanfaatkan secara bijak, dan dijaga dari pencemaran. Kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Hampir penduduk di Indonesia menderita penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air atau oleh air yang tercemar.
Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaannya yang melebihi kapasitas untuk dapat diperbaharui. Selain itu, kegiatan irigasi pertanian juga akan mencemari air. Padahal masyarakat sangat membutuhkan air bersih dalam melakukan kegiatan sehari-hari, sehingga pengadaan perubahan radikal dalam memanfaatkan air sangat perlu untuk mengantisipasi jika suatu saat air tidak dapat digunakan lagi tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi masyarakat.
Orang memang memahami masalah pencemaran dan lingkungan yang biasanya merupakan akibat perindustrian maupun irigasi pertanian, tetapi tetap saja tidak menyadari implikasi penting yang dapat terjadi. Masalah persediaan air tidak dapat ditangani secara terpisah dari masalah lain. Buangan air yang tak layak dapat mencemari sumber air, dan sering kali tidak teratasi. Ketidaksempurnaan dalam layanan pokok sistem saluran hujan yang kurang baik dan pembuangan limbah padat yang jelek juga dapat mengakibatkan hidup orang sengsara. Oleh karena itu, perlu adanya pemikiran yang sangat penting dalam jangka panjang dari segi pengintegrasian layanan-layanan lingkungan ke dalam suatu paket pengelolaan air, pengolahan, dan penggunaan air.
Ketersediaan dan Kelangkaan Air
Air merupakan elemen yang paling melimpah di atas bumi, yang meliputi 70 % permukaannya dan berjumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik. Apabila dituang merata di seluruh permukaan bumi akan terbentuk lapisan dengan kedalaman rata-rata 3 kilometer. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003 %. Sebagian besar air, kira-kira 97 %, ada dalam samudera atau laut dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk keperluan yang banyak. Dari 3 % sisanya yang ada, hampir 87 % tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.
Dalam satu tahun, rata-rata jumlah tersebut tersisa lebih dari 40.000 kilometer kubik air segar yang dapat diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Bandingkan dengan jumlah penyedotan yang kini hanya ada sedikit di atas 3.000 kilometer kubik tiap tahun. Ketersediaan ini (sepadan dengan lebih dari 7.000 meter kubik untuk setiap orang) sepintas terlihat cukup untuk menjamin persediaan bagi setiap penduduk, tetapi kenyataannya air tersebut seringkali tersedia di tempat yang tidak tepat.
Selain itu, angka curah hujan sering kurang dapat dipercaya, sehingga persediaan air yang nyata sering jauh di bawah angka rata-rata yang ditunjukkan. Pada musim penghujan, biasanya terjadi hujan yang sangat hebat dan hanya terjadi beberapa bulan setiap tahun. Bendungan dan tandon air yang mahal diperlukan untuk menyimpan air pada musim kemarau dan untuk menekan kerusakan musibah banjir. Bahkan di kawasan basah ini angka yang turun naik dari tahun ke tahun dapat mengurangi persediaan air yang akan terasa secara nyata.
Pembagian dan pemanfaatan air selalu merupakan isu yang dapat mengakibatkan pertengkaran dan sering terjadi emosi di antara penduduk. Jumlah penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan kebutuhan akan air pun meningkat dan air yang bermutu bagus semakin sulit didapatkan.
Masalah terbesar mengenai persediaan air berkembang tidak hanya dari masalah kelangkaan air dibanding dengan jumlah penduduk, tetapi dari kekeliruan menentukan kebijakan tentang air, dan baru menyadari masalah-masalah tersebut lama setelah akibat yang tidak dikehendaki menjadi kenyataan. Jadi meskipun penambahan investasi dalam sektor ini diperlukan, penambahan itu perlu disertai dengan perubahan. Prioritas utama haruslah pada cara pemanfaatan paling bijak terhadap investasi besar yang telah ditanam dalam sektor ini setiap tahun.
Penyediaan dan Pemakaian Air
Linsley et al. (1992) berpendapat bahwa penyediaan air (water supply) adalah penyediaan air yang mampu menyediakan air minum (portable water) dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan permukiman. Dari pengertian ini penyediaan air merupakan upaya memindahkan air dari sumber air sampai ke tempat yang membutuhkan air baik untuk keperluan rumah tangga maupun bukan rumah tangga.
Penyediaan air di Indonesia merupakan penyediaan air baku (raw water), yaitu air yang dapat digunakan sebagai bahan baku sebelum pemakaian untuk kepentingan rumah tangga, sarana prasarana sosial, pengendalian polusi, industri, infrastruktur pemerintah dan swasta, dan pertanian. Penyediaan air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum secara operasional dapat diperoleh dari sumur, sungai, danau,dan mata air (Agung, 2000).
Penyediaan sarana air bersih banyak yang tidak berfungsi dan sebagian besar mengalami kegagalan. Proyek air yang dibangun tidak berfungsi dan mengalami kegagalan karena tidak memperhatikan aspek sosial demografi dan budaya masyarakat setempat (Nyong & Kanaroglou, 1999)
Sedangkan pemakaian air menurut Mays dan Tung (1992) mengelompokkan pemakaian air (water use) menjadi dua, yaitu penggunaan konsumsi (consumptive use) dan penggunaan bukan konsumsi (nonconsumtive use). Penggunaan konsumsi meliputi kebutuhan air untuk pemakai permukiman kota, pertanian, industri, dan pertambangan. Sedangkan air bukan konsumsi berupa penggunaan air secara langsung pada badan sungai (instream) untuk penggunaan lain seperti tenaga air (hydropower), transportasi, dan rekreasi. Penggunaan air (water use) adalah jumlah air yang diperlukan untuk mencapai suatu sasaran, sedangkan kebutuhan air (water demand) adalah pengaturan jumlah air yang digunakan konsumen persatuan waktu pada tingkat harga air tertentu.
Ghee (1991) mengelompokkan kebutuhan air suatu permukiman meliputi air untuk rumah tangga (domestic), air untuk perdagangan dan industri (commercial and industrial), air untuk penggunaan umum (public use), kehilangan air pada jaringan pipa dan penggelontoran (loss and waste).
Sumber air bersih
Air bersih adalah salah satu jenis sumber daya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi. Untuk konsumsi air minum, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, masih terdapat risiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri misalnya Escherichia coli atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga mendidih masih terdapat banyak zat berbahaya terutama logam dan tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.
Sumber air bersih dapat diperoleh melalui sungai, curah hujan, air permukaan tanah, dan air bawah tanah. Hujan dimanfaatkan sebagai sumber dari air bersih, sumber air ini digunakan oleh perorangan atau berkelompok dan pemerintah biasanya membangun bendungan dan tandon air yang mahal untuk menyimpan air bersih pada saat musim kemarau dan untuk menekan kerusakan musibah banjir. Rata-rata air bersih yang diperoleh dari sungai adalah lebih dari 40.000 kilometer kubik air segar diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Ketersediaan air ini lebih dari 7.000 meter kubik untuk setiap orang yang sepintas terlihat cukup untuk menjamin persediaan yang cukup bagi setiap penduduk, tetapi kenyataannya air tersebut sering tersedia di tempat yang tidak tepat.
Penyalahgunaan dan Pencemaran Air Bersih
Sumber-sumber air bersih yang diperoleh dari sungai, hujan, dan tanah biasanya terganggu akibat penggunaan dan penyalahgunaan sumber air seperti pertanian, industri, dan eksploitasi sumber air secara keseluruhan oleh rumah tangga. Pada pertanian, penghamburan air akibat ketiadaan penyaluran air yang baik pada lahan yang diairi dengan irigasi (untuk penghematan dalam jangka pendek) dapat berakibat terjadinya kubangan dan penggaraman yang mengakibatkan hilangnya produktivitas air dan tanah.
Pada industri, air yang digunakan lebih sedikit dari air yang digunakan pada irigasi pertanian, namun penggunaan air pada bidang industri berdampak lebih parah dari penggunaan air pada bidang pertanian. Penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional dan cenderung berlebihan. Selain itu pembuangan limbah industri yang tidak diolah dapat mengakibatkan pencemaran bagi air permukaan atau air bawah tanah sehingga menjadi terlalu berbahaya untuk dikonsumsi. Air buangan industri sering dibuang langsung ke sungai dan saluran-saluran, mencemari sungai itu, dan pada akhirnya mencemari lingkungan laut, kadang-kadang buangan tersebut dibiarkan meresap ke dalam sumber air tanah tanpa melalui proses pengolahan apapun. Kerusakan yang diakibatkan oleh buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan kimia modern begitu kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat air dalam volume yang sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa proses pengolahan khusus.
Sistem Pengolahan Air Bersih
Sistem pengolahan air bersih dapat dilakukan dengan menggunakan sumber air baku sungai, tanah, dan air pegunungan dengan skala atau standar air minum dan memerlukan beberapa proses. Proses yang perlu diterapkan tergantung dari kualitas air baku tersebut.
Proses yang diterapkan dalam sistem pengolahan air bersih antara lain :
1. Proses penampungan air dalam bak penampungan air yang bertujuan sebagai tolak ukur dari debit air bersih yang dibutuhkan. Ukuran bak penampungan disesuaikan dengan kebutuhan (debit air) dengan ukuran bak dua kali dari kebutuhan
2. Proses oksidasi atau penambahan oksigen ke dalam air agar kadar logam berat serta zat kimiawi lainnya yang terkandung dalam air mudah terurai. Dalam proses ini dilakukan penambahan oksigen dengan sistem aerasi yang menggunakan alat aerator dan juga dapat dilakukan dengan menggunakan katalisator, yaitu bahan kimia untuk mempercepat proses terurainya kadar logam berat serta zat kimiawi lainnya dengan menggunakan clorine, kaporite, dan kapur.
3. Proses pengendapan atau koagulasi, yaitu proses yang dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti bahan koagulan (Hipoklorite/PAC) dengan rumus kimia. Proses ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan teknik lamela plate.
4. Proses filtrasi (carbon actived), proses ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang masih terkandung dalam air dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas air agar air yang dihasilkan tidak mengandung bakteri (sterile) sera menghilangkan rasa dan aroma air. Biasanya proses ini menggunakan bahan sand filter yang disesuaikan dengan kebutuhan baik debit maupun kualitas air dengan media filter, yaitu silica sand atau quarsa dan zeolite.
5. Proses pembunuhan bakteri, virus, jamur, dan makroba bertujuan untuk mengurangi patogen yang ada, proses ini menggunakan proses chlorinator atau sterilisasi dengan menggunakan kaporit.
Tiga Prinsip dalam Pengelolaan Air Bersih untuk Mendukung Pembangunan Masa Depan yang Sehat
Untuk mendapatkan air bersih yang sehat, perlu adanya prinsip dalam pengelolaan air bersih untuk mendukung pembangunan masa depan yang sehat. Ada tiga macam prinsip dalam pengelolaan air, yang pertama adalah konservasi, konservasi berarti menggunakan air hanya secukupnya untuk memenuhi kebutuhan tanpa pemborosan. Konservasi yang efektif biasanya meliputi suatu paket langkah pengendalian kebocoran, penggunaan peralatan untuk penghematan air, tarif yang berdaya mencegah pemborosan, dan kampanye untuk mendorong konsumen lebih sadar terhadap akibat penggunaan yang boros.
Kedua adalah ketahanan yang berarti penggunaan teknologi dan sistem yang selalu siap bekerja dengan sumber-sumber daya yang dapat diperoleh dari lingkungan masyarakat yang dilayani tanpa ketergantungan yang berlebih pada masukan dari luar. Sumber daya ini tidak hanya keuangan, tetapi juga mengelola sistem dan ketrampilan yang diperlukan untuk merawat dan memperbaiki peralatan yang telah dipasang. Ketahanan peduli terhadap penggunaan sistem air minum dan sanitasi yang disenangi masyarakat dan juga peduli terhadap partisipasi masyarakat dalam memilih teknologi yang akan diterapkan dan dalam menentukan cara mengelolanya, demikian juga dalam perencanaan, konstruksi, manajemen, dan operasi dan pemeliharaan yang tepat. Sistem yang tidak mampu berjalan atau yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat yang seharusnya dilayani merupakan penyia-nyiaan investasi sumberdaya.
Prinsip ketiga adalah sistem melingkar (Circular System). Dengan meningkatnya tekanan jumlah penduduk terhadap sumber daya yang terbatas, maka kita perlu memikirkan sistem melingkar dan bukan garis lurus. Kota yang membuang polusinya ke saluran air dan mengakibatkan masalah bagi orang lain dan tidak bisa diterima lagi. Sebaliknya, air limbah yang telah diolah seharusnya dianggap sebagai suatu sumber bernilai yang dapat dipakai
Perlunya Paradigma Baru dalam Pengelolaan Air Bersih
Perusahaan Daerah Air Minum selalu menyelesaikan permalahannya secara reaktif. Solusi yang diambil selalu didasarkan pada satu aspek tanpa melihat aspek lain yang terkait, misalnya kerugian yang dialami oleh PDAM selalu diatasi dengan meningkatkan tarif dasar air tanpa melihat sebab dari permasalahan lain. Keadaan tersebut membuat PDAM di Indonesia mengalami penurunan secara terus menerus setiap tahunnya. Oleh karena itu diperlukan paradigma baru untuk mengganti paradigma lama. Paradigma baru memandang permasalahan pengelolaan air bersih dari seluruh aspek yang terkait. Aspek yang terkait tersebut adalah aspek lingkugan sosial, lingkungan fisik, teknologi, kelembagaan, keuangan, tingkat pelayanan, dan efisiensi pengelolan.
Pemecahan masalah secara komprehensif membutuhkan pemahaman secara baik tentang faktor yang menimbulkan masalah dan hubungan antara setiap elemen. Oleh karena itu analisis dan formulasi permasalahan menjadi sebuah tahap penting sebelum berpikir sebuah strategi secara menyeluruh dalam memecahkan masalah. Paradigma baru dibutuhkan untuk mengganti paradigma lama karena dinilai gagal dalam memahami kompleksitas permasalahan secara menyeluruh. Penerapan paradigma baru tersebut dapat membantu untuk memahami kompleksitas permasalahan secara menyeluruh dan memecahkan permasalahan yang dialami, sehingga dapat mewujudkan pelayanan air bersih secara berkelanjutan.
Strategi Penggunaan Air Bersih
Selain untuk kebutuhan irigasi, air yang diambil dari lapisan sumber air bawah tanah dapat dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Hal ini bertujuan untuk mencegah perembesan air garam di sepanjang pantai dengan memasukkan air ke jaringan-jaringan tersebut dan dengan kewaspadaan yang benar. Selain itu, unsur hara dalam limbah sebaiknya tidak begitu saja dibuang yang dapat mengakibatkan terjadinya rawa-rawa (eutrophication) di saluran dan sungai. Setiap hari ribuan ton unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan potasium, mengalir dari desa ke kota dalam bentuk makanan. Di seluruh dunia, lebih dari dua per tiga unsur hara yang terdapat dalam limbah manusia di buang ke lingkungan dalam bentuk limbah cair yang tidak diolah dan tentu saja unsur hara yang hilang ini pada akhirnya harus diganti dengan pupuk petrokimia.
Persediaan air harus dikembangkan secara seimbang untuk meningkatkan kuantitas persediaan air. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menyediakan sarana pembuangan limbah air atau sarana sanitasi pokok sehingga tingkat kesehatan akan meningkat dengan adanya lingkungan dan air yang bersih
Proses pengambilan keputusan juga perlu diperbaiki. Terlalu banyak usulan proyek yang diterima hanya berdasarkan rendahnya biaya modal awal, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor penting lainnya yang berhubungan dengan ketahanan (sustainability). Selanjutnya, akibat jangka panjang yang tak bisa diperbaiki, karena merosotnya mutu lingkungan dan habisnya sumber daya perlu dinilai secara lebih realistis agar pengurasan dan pencemaran air oleh industri dan kota bukan lagi merupakan strategi yang secara komersial dianggap sehat.
Penutup
Kesimpulan
Air merupakan unsur utama hidup manusia yang sangat dibutuhkan oleh semua orang. Tanpa air semua makhluk yang ada di bumi akan mati. Air dapat diperoleh dari sumber air seperti sungai, curah hujan, dan air tanah, tetapi sumber-sumber air tersebut telah tercemar oleh kegiatan industri dan pembuangan limbah rumah tangga. Ketersediaan air saat ini pun semakin langka karena meningkatnya jumlah permintaan akan kebutuhan air oleh penduduk. Penyediaan air pun dapat dilakukan oleh PDAM yang diperoleh dari sumur, sungai, danau, dan mata air. Untuk penggunaannya ada dua macam yaitu penggunaan konsumsi dan penggunaan bukan konsumsi. Penggunaan konsumsi digunakan untuk penduduk permukiman kota, pertanian, industri, dan pertambangan. Sedangkan air bukan konsumsi berupa penggunaan air secara langsung pada badan sungai (instream) untuk penggunaan lainnya seperti tenaga air (hydropower), transportasi, dan rekreasi.
Untuk dapat memperoleh dan menggunakan air yang bersih dan sehat perlu adanya pengolahan yang baik. Pengolahan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan sumber air baku sungai, tanah, dan air pegunungan dengan skala atau standar air minum dan memerlukan proses untuk melakukannya. Proses tersebut adalah proses penampungan air, proses oksidasi atau penambahan oksigen ke dalam air, pengendapan atau koagulasi, filtrasi, dan pembunuhan bakteri, jamur, dan virus. Dalam pengelolaan air bersih ada tiga prinsip yang dilakukan, yaitu konservasi, ketahanan, dan sistem melingkar. Ketiga prinsip ini bertujuan untuk mendukung pembangunan masa depan yang sehat dan menciptakan masyarakat yang sehat juga.
Strategi penggunaan air pun juga harus dapat diseimbangkan antara pemakaian yang satu dengan yang lainnya atau dapat saling mengganti agar tidak boros dalam pemakaiannya seperti kebutuhan air untuk irigasi yang belum berfungsi dialihkan pada jaringan rumah tangga agar sumber air terpakai. Penerapan paradigma baru dalam mengganti paradigma lama akan membantu untuk memahami kompleksitas permasalahan secara menyeluruh dan memecahkan permasalahan yang dialami, sehingga dapat mewujudkan pelayanan air bersih secara berkelanjutan. Selain itu untuk menciptakan lingkungan yang sehat dengan sumber air yang sehat diperlukan suatu keputusan yang bijak agar pembangunan yang ada di Indonsia ini terarah dengan sumber daya air yang baik.
Saran
Studi lanjutan dalam pengelolaan dan pengolahan air bersih akan membantu masyarakat dalam kebutuhan akan air dan mendukung terciptanya pembangunan masa depan yang sehat.
Daftar Pustaka
Syahrani, Djoko L., & Fatchan N (2004). Analisis Peranserta Masyarakat dalam Pengelolaan Air Bersih. Jurnal Manusia dan Lingkungan. XI (2): 86-95.
Ghee, TJ. (1991). Water Supply & Sewerage. Sixth Edition. McGraw-Hill Book. Singapore, 2, 10-11
Linsley, R.K., and J.B Franzini, D,L. Freyberd, G. Tchobanoglous. (1992). Water Resources Engineering. Fourth and Management. McGraw-Hill Book Co. Singapore, 497
Mays, L.W. and Y.K. Tung. 1992. Hydro System Engineering and Management. McGraw-Hill Book Co. Singapore, 221-222.
Nyong, A.O. and P.S. Kanaroglou. 1999. Domestic Water Use in Rural Semiarid Africa : A Case Study of Katako Village in Northeastern Nigeria. The Journal of Human Ecology. Vol.27, No.4, 1999. McMaster University Hamilton.
Middleton, R. (2004). Air Bersih Sumber Daya yang Rawan, Malang: IKIP Malang, http://jakarta.usembassy.gov/ptp/airbrs1.html (21 Desember 2009)
Awaluddin, N. (2007). Teknologi Pengolahan Air Tanah Sebagai Sumber Air Minum Pada Skala Rumah Tangga, Jakarta: http://unlastnoel.files.wordpress.com/2009/04/awaluddin-in-teknologi-air-minum-pam-ftsp-uii1.pdf (21 Desember 2009)
Pramono, S. S., (2001) Pendekatan Sistem pada Pengelolaan Air Bersih di Indonesia, Bandung: http://repository.gunadarma.ac.id:8000/browse.php?nfile=633







Tidak ada komentar:
Posting Komentar